ulumul quran



BAB II
PEMBAHASAN
A.    Nuzul Qur’an Pada Zaman Rasullah Saw
1.      Pengertian Nuzul Qur’an
Pengertian nuzulul quran menurut bahasa kata nuzulul quran merupakan gabungan dari dua kata, yang dalam bahasa arab susunan semacam ini disebut dengan istilah tarkib idhofi dan dalam bahasa indonesia biasa diartikan dengan turunnya al-quran.
Menurut Jumhur ulama’ : antara lain Ar-Rozi, Imam As-Suyuthi, Az-Zarkasyi, dll. Mengatakan arti nuzulul quran itu secara hakiki tidak cocok sebagai al-quran sebagai kalam allah yang berada pada dzat-nya, sebab dengan memakai ungkapan “diturunkan” menghendaki adanya materi kalimat atau lafal atau tulisan huruf yang ril yang harus diturunkan.
Karena itu arti kalimat nuzulul quran itu harus dipakai makna majazi yaitu menetapkan atau memberitahukan atau menyampaikan al-quran, baik disampaikannya al-quran ke lauh mahfudh atau ke baitul izzah di langit dunia maupun kepada nabi muhammad SAW sendiri.[1]
2.      Hari pertama turun al-qur’an dan tempatnya
Al-qur’an mulai diturunkan kepada nabi ketika nabi sedang berikhwal di gua hira pada malam isni, bertepatan dengan tanggal 17 Ramadhan, tahun 41 dari kelahiran Nabi Muhammad SAW, 6 Agustus 610 M.
      Untuk menyelami betapa kaitan antara nabi dengan wahyu dan betapa kenyataan-kenyataannya dan kelakuan-kelakuannya baik kita perhatikan riwayat-riwayat yang dibawah ini
a.       Hadist Bukhary dari Aisyah r.a ujarnya:
“permulaan wahyu yang diterima Rasullah ialah mimpi yang beliau bermimpi seakan-akan melihat sinaran shubuh, dan terjadi dan sebagai yang dimimpikan”.
b.      Hadist yang diriwayatkan oleh Ath Thabary dari Abdullah Ibnu zubair, ujarnya:
“ bersabdalah Rasullah SAW, maka datanglah kepadaku Jibril dan aku kala itu sedang tidur, dia membawa selembar Namath (kain berwarna) dari sutera, padanya ada tulisan (suratan).
c.       Hadist yang diriwayatkan oleh Al-Bukhary dari Aisyah r.a ujarnya:
“bahwasanya Al Harist ibn Hisyam bertanya kepada Nabi SAW ujarnya.” Bagaimana datangnya wahyu kepada engkau ya Rasullah?” maka Nabi menerangkan: kadang-kadang wahyu itu dating kepadaku seperti gerincingan lonceng. Itulah wahyu yang paling berat aku menerimanya. Kemudian dilenyapkan dari padaku sesudah aku memahami benar-benar apa yang dikatakan (wahyu itu). Dan kadang-kadang mala itu menyerupakan dirinya sebagai orang lelaki, lalu ia berbicara kepadaku serta aku pun memahamkan apa yang dibicarakan itu.”
d.      Hadist yang diriwayatkan oleh Al Bukhary dari Aisyah juga ujarnya:
“ bersabda Rasullah SAW:”wahai ‘Aisyah ini jibril dating membacakan salam untukmu”. Maka aku pun berkata: wa’alihis salam warahmatullahi”. Kata Aisyah: Nabi melihat apa yang kita tidak melihatnya.
e.       Hadist yang diriwayatkan oleh Ahmad dalam musnadnya dari Abdullah Ibn Umar r.a ujarnya:
“ saya bertanya kepada Nabi SAW: apakah tuan merasa bahwa wahyu akan dating? Menjawab Nabi: kadang-kadang aku dengar suara gerincing lonceng yang menderu-deru. Ssudah itu akupun terdiam mendengar itu.[2]
3.      Hikmat Al-Qur’an Diturunkan Berangsur-Angsur
Kata Ibnu Faurak: ada yang mengatakan bahwa sebabnya diturunkan sekaligus, ialah karena Nabi Musa itu seorang yang membaca dan menulis. Adapun sebab tuhan menurunkan Al-Qur’an bernujum-nujum, adalah karena Al-Qur’an diturunkan berupa bacaan dan brupa tulisan. [3]


BAB II
PEMBAHASAN
A.    Jam’ul Qur’an Pada Masa Rasullah SAW
1.      Pengertian Jam’ul Qur’an
Pembukuan al-Qur`an adalah Jam`ul Qur`an yang artinya pengumpulan al-Qur`an. Sehingga kalimat Jam`ul Quran dalam bahasa Indonesi memiliki istilah khusus, yaitu kodifikasi al-Qur`an. Namun  Jam`ul Qur`an diartikan oleh para ulama dengan dua makna.  yaitu :
a.       Jam`ul Qur`an  (pengumpulan al-Qur`an) dengan cara memjaganya atau menghafalnya. Pengumpulan al-Qur`an dsimpan didalam hati.
b.      Jam`ul Qur`an (pengumpulan al-Qur`an) diartikan sebagai penulisan secara keseluruhan, baik secara huruf, surat, dan sistematika ayat-ayatnya. Pengumpulan al-Qur`an disimpan didalam mushaf.[1]
2.      Jam’ul Qur’an Pada Masa Nabi (Pengumpulan Al-Qur’an)
Tiap-tiap Nabi menerima ayat-ayat yang diturunkan Nabi lalu membacanya di depan para sahabat, serta menyuruh para kuttab (penulis menulisnya). Setiap telah cukup sesurat turunnya, Nabi member surat itu sebagai tanda yang membedakan surat itu dengan yang lain. Nabi suruh letakkan “bassmalah” di permulaan surat yang diawal atau akhir surat yang terdahulu letaknya.
      Diriwayatkan oleh Bukhary dalam shahihnya’”adalah jibril dating kepada Nabi untuk mendengar bacaannya setiap tahun sekali. Pada tahun beliau wafat Jibril datang dua kali.
Hal tersebut dalam Al-Itqan: adalah Zaid bin Tsabit seorang penulis wahyu yang utama menyaksikan pemeriksaan Jibril yang penghabisan dan sesudah pemeriksaan itu Zaid pun menulis Al-Qur’an dan membacanya dihadapan sahabat. Karena inilah kiranya Abu Bakar berpegang pada Zaid bin Tsabit dalam urusan mengumpulkan Al-Qur’an dan Ustman juga menyuruh Zaid bin Tsabit menilis mushaf-mushaf yang dikirimnya kebeberapa kota.
      Tulisan-tulisan juru tulis Rasul itu disimpan diruma Rasul dan mereka menulis pula untuk diri mereka sendiri. Semua ahli ilmu menetapkan, bahwa susunan ayat Al-Qur’an adalah susunan menurut Rasul semata bukan sekali-kali menurut kemauan para juru tulisnya.
      Ketika rasul masih hidup, Al-Qur’an itu belum dikumpulkan didalam mushaf (sebuah buku yang terjilid). Sahabat-sahabat tidak membacanya buku, hanya mengahafal di luar kepala seperti: Abdullah inb Mas’ud, Salim binMa’qil,(budak Abu Huzaifah yang telah di merdekakan), Ubay bin Ka’ab, Zaid bin Tsabit dan Abu Zaid, [2]


[1] Rosihon Anwar, Ulumul Qur’an ((Bandung: Pustaka Setia, 2007), hal. 32

[2] Teungku Muhammad Hasbi Ash Shiddieqy,  Seajar Pengantar Ilmu Al-Quran Dan Tafsir, Semarang: Pustaka Rizki Putra, 2000), hal. 68-70





[1]  Abdul Djala, Ulumul Qur’an Edisi Lengkap, (Surabaya : Dunia Ilmu, 2000), hlm, 5
[2]  Teungku Muhammad Hasbi Ash Shiddieqy,  Seajar Pengantar Ilmu Al-Quran Dan Tafsir, Semarang: Pustaka Rizki Putra, 2000), hal. 24-30
[3] Ibid, hal. 50

Komentar